Sunday, April 17, 2022

"Dear mister girl hater" Daddy-Long-Legs book review

Daddy long legs, a book that follows Jerusha "Judy" Abbot and her benefactor whom she calls, as the book tittle suggests daddy long legs. 

Judy starts out her life in John Grier home, an orphanage her unusual first name "Jerusha" was given by a matron, she hates that name and calls herself Judy, she has lived her entire life in the orphanage due to the death of her parents when she was a baby. She has lived her entire life in the orphanage where she develops her talent for writing. 

Until one day in a trustee meeting she saw someone, only his back though, the only thing she was sure of was that that man was quite tall. And that for some reason, after the meeting that man had given her a scholarship to a prestigious school. In exchange for the scholarship she has to write to her benefactor every month (though she ends up writing more often than that) with no guarantee of an answer.

Judy's benefactor calls himself "John Smith" but even Judy knows that's not his real name, so she gives him a nickname, she started off with "Mr girl-hater" because he has only helped boys before, but she thought that was rude and then she went with "Mr rich man" but she found that insulting because he might not stay rich his entire life. So she decided to go with a nickname that she was sure of "Daddy long legs" because he was tall.

And so Judy's life in the Lincoln Memorial Highschool begins, seen through (usually) monthly letters to daddy long legs. Judy is very expressive in her letters, talking about her feelings, confusions and sometimes frustrations, and sometimes asking questions to daddy long legs (which, never get answered). She quickly befriends her roommate Sally Mcbride due to having similar personalities and interests. The same passion for books writing and studying (they're both nerds). Though it isn't the same for her other roommate Julia Pendleton, she and Judy initially didn't get along, mainly due to Julia being snobbish and annoying. 

The letters follow Judies adventures (and sometimes misadventures) throughout her time in school. At the start Judy is confused by things that, seem to be normal to other people. Christmas, Thanksgiving, family, it was unfamiliar to her due to her past, because of that she found trouble connecting with her friends and classmates. But as the story progresses, through living together with her friends, shared hardships  Judy finds out that even though she isn't as fortunate as the other kids in school, she can still find joy in her own ways, she even ends up befriending Julia. Later on due to frequent run ins with a certain someone, she even falls in love.

In conclusion this was a great read, the story probably isn't realistic enough to actually happen in real life. But realistic enough for someone to dream about it, even though it's old literature there isn't some profound moral story in it (at least to me), it's just a girl finding friendship, love, and happiness. 8/10

Saturday, November 21, 2020

"Sebuah teka-teki" Review Buku Si Anak Pintar

 Halo semuanya, aku balik lagi. Setelah me-review buku Si Anak Kuat, kali ini aku akan me-review buku lain dari series Anak-Anak Mamak karya Tereliye, yaitu Si Anak Pintar. Buku ini bercerita tentang  seorang anak bernama Pukat dan seperti kata judulnya, kepintarannya. Bila kalian ingin tahu, ya, Pukat bersaudara dengan Amelia.

Pertama aku ingin memberi  tahu kalian tentang “kepintaran” Pukat. Dia memang jenius dalam sisi akademis, yang walaupun bandel dan sering main, entah kenapa bisa ranking 1. Tetapi selain itu dia juga memiliki jenis “pintar” yang berbeda. Dia sangat hebat dalam memecahkan masalah, memiliki intuisi yang bagus, dst. Kalo sebutan gaulnya dia tuh street smart.

Kita pertama melihat display kepintaran Pukat tepat di awal cerita, ketika ia menangkap segerombolan perampok di kereta yang dinaiki olehnya dan ayahnya. Para perampok mematikan lampu kereta, mereka memiliki pisau dan senjata api, bagaimana menangkapnya? Mereka bisa dengan mudah berbaur dengan penumpang lain ketika lampu kembali menyala. Untungnya, Pukat memiliki ide ketika dia dan ayahnya  sedang ditodong ia menaburkan sesuatu yang berbentuk bubuk dan berbau sangat menyengat. Ketika kereta berhenti, seperti dugaan semua orang para perampok sudah berbaur dengan penumpang yang lain. Namun, ada 2 perampok yang berbeda dari yang lain, 2 perampok ini berbau kopi! Pukat telah menaburkan bubuk kopi ke celana dan sepatu 2 perampok yang menodongnya dan ayahnya. Dengan cepat polisi menemukan kedua perampok dengan sepatu berbau kopi, dan setelah “interogasi” (digebukin) 2 orang itu memberi tahu polisi siapa geng merekasehingga berhasil diringkus.

Setelah kejadian perampokan di kereta kita melihat kehidupan sehari-hariPukat. Masuk sekolah, bermain dengan teman baiknya, Raju, dan bandel bareng adiknya, Burlian. Hal-hal normal lah, selama beberapa bab pertama kepintaran Pukat belum terlalu terlihat. Dia membuat perahu otok-otok sendiri dengan kaleng yang yah, memang keren, tapi belum jenius. Pukat terlalu sibuk berseteru dengan Raju tentang shio (tahun kelahiran Cina) untuk melakukan hal jenius. 

Pukat baru menunjukkan kecerdikannya ketika Nayla, adik Ahmad (temannya) sakit. Dan sakitnya parah, harus selalu diurus. Dan bila kalian ada yang sudah menerka, tidak….Pukat tidak akan mencari/membuat obatnya, buku ini tidak se-tidak realistis itu. Masalahnya di sini bagi Pukat adalah, selain Nayla  sakit, ibu Ahmad buka warung di depan sekolah, dan warung itu sudah menjadi semacam penyelamat bagi para siswa. Yang bolpennya kehabisan tinta di tengah ujian, yang makan siangnya ketinggalan di rumah, dst dst. Dan sekarang karena Nayla sakit, ibu Ahmad tidak bisa menjaga warung yang sudah seperti world heritage bagi anak-anak sekolah. Pukat tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kalau warungnya tutup bagaimana dia akan membeli cemilan? (Kalau dipikir-pikir remeh juga ya alasannya wkwkwk). Pukat memutar otak, pasti ada suatu cara agar warung ibu Ahmad tetap buka. Dia menghabiskan beberapa hari berpikir, dan selama beberapa hari itu pula tidak ada anak sekolah yang bisa jajan.

Akhirnya, Pukat menemukan solusiyang unik. Bukan menyewa penjaga warung, bukan juga warungnya dijaga oleh anak-anak, tapi solusinya adalah sebuah kaleng. Kaleng yang sejak ditaruh diberi julukan “kaleng kejujuran”. Sekarang tidak ada lagi yang menunggu warung, yang ada hanyalah kaleng tempat menaruh uang. Agar ini berhasil, semua yang memakainya harus jujur, tidak ada yang hanya mengambil dan tidak membayar, atau mengambil uang dari kaleng. Yah, metode ini walau tidak sempurna adalah metode paling baik. Suatu kali ada uang kurang 200 perak, gorengannya ilang, tapi duitnya tidak ada dan selama beberapa hari anak-anak satu sekolah tidak ada yang saling percaya. Ternyata yang mencuri orang dari kampung sebelah pula, katanya sih tidak paham cara kerja warungnya, katanya. Lalu ada suatu ketika, kalengnya hilang, sudah bukan satu sekolah lagi geger tapi satu kampung geger! Pukat pikirannya langsung kemana-mana apakah ada yang mencurinya? Apakah anak sekolah? Atau orang kampung? Kebingungan Pukat berakhir ketika dia melihat Can, temannya, berjalan menuju warung dan menaruh kalengnya kembali di atas meja, Can terlihat kebingungan ketika semua orang melongo kepadanya “aku cuman pinjam kaleng buat main layangan”. Setelah satu desa puas menertawai Can karena kebodohannya, kehidupan Pukat tenang kembali, dengan warung berjalan lancar, dan hidup yang tenang–tenang  saja.

Suatu hari dia pergi mengunjungi  rumah Wak Yati, bibi mereka. Setiap dikunjungi, Wak Yati selalu mendongeng atau memberi teka-teki. Hari ini tidak begitu berbeda Wak Yati memberi Pukat sebuah teka-teki,“Langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkuk, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh tak terbilang. Lantas, apakah harta karun paling berharga di kampung?”  Pukat dengan logikanya langsung mencari-cari kira-kira apa barang paling berharga di kampung, dari sapi sampai sawah. Wak Yati hanya menertawakannya dan menyuruhnya lanjut mencari. Pukat kebingungan, biasanya setelah beberapa hari Wak Yati memberikan jawaban  teka-teki nya, atau ia menemukan jawabannya. Ketika Pukat bingung menanyai Wak Yati beberapa hari kemudian, Wak Yati malah bilang bahwa dia berharap Pukat tidak pernah menemukan jawabannya. Pukat tidak kunjung menemukan jawaban teka-teki itu, hingga suatu hari ketika penduduk kampung hendak merenovasi masjid, ditemukan 4 peti didalam loteng masjid. Dua diantaranya mengandung harta, koin perak dan emas, satu mengandung buku, dan satu lagi mengandung buku juga, tapi dalam bentuk yang berbeda, seperti gulungan.


Setelah dibaca oleh Wak Yati (satu-satunya orang di kampung yang bisa bahasa belanda) terungkap bahwa gulungan-gulungan itu adalah catatan yang ditinggalkan oleh Meneer Van Houten, seorang komandan perang Belanda yang dikejar oleh Jepang dan berhenti di desa untuk karena ingin merawat istrinya yang sakit. Sempat terjadi cekcok antara Van Houten dan penduduk desa karena penduduk desa enggan menolong orang yang dulu menjajah tanah mereka. Pengawal Van Houten dan penduduk desa saling todong.  Bila tidak ditenangkan Salehuddin Pasai (kakek Pukat), pertarungan mungkin sudah pecah. Van houten merawat istrinya yang sakit selama beberapa hari di desa, tapi sayangnya tentara Jepang menemukan desa dan pertempuran pecah. Tentara Jepang berhasil dibuat mundur, tapi 3 tentara Van Houten gugur dan Jepang sepertinya akan melakukan serangan lagi. Setelah berdiskusi dengan Salehuddin, Van Houten membuat pilihan. Dia akan sendirian mengalihkan perhatian tentara Jepang, sementara istri dan anaknya melarikan diri. Ia menitipkan barang-barangnya kepada Salehuddin, dari emas perhiasan, sampai buku-buku berisi ilmu. Yang penting harta paling berharganya selamat. Itu adalah catatan terakhir Van Houten.


Setelah Wak Yati selesai membaca Pukat langsung menghampririnya, dan mengatakan kepada Wak Yati bahwa harta paling berharga di kampung adalah 4 kotak itu. Mendengar jawaban itu Wak Yati kecewa, Pukat yang ingin mempertahankan logika jawabannya mengatakan bahwa Van Houten menyelamatkan 4 kotak berisi harta paling berharganya.  Wak Yati hanya membalas dengan mengatakan bahwa Pukat kurang teliti membaca catatannya. Pukat bengong, untuk sekarang, ia belum paham bahwa seluruh masa kecilnya, sejatinya adalah jawaban bagi teka-teki Wak Yati.


Kalau kalian para pembaca gimana? Apakah sudah bisa menyimpulkan jawaban teka-teki Wak Yati? Atau masih terbengong-bengong seperti Pukat. Kalau yang sudah bisa menjawab, selamat. Kalau yang belum, jangan khawatir, di kelanjutan bukunya nanti akan ada banyak petunjuk  jawabannya  dan akan ada jawaban yang sangat jelas yang bisa kalian ketahui  sesudah membaca bukunya

Wednesday, November 11, 2020

"Perubahan" Review Si Anak Kuat

 

Halo semua aku (Syauqi) balik lagi, kali ini aku akan me review buku “Si Anak Kuat” karya Tereliye.


Buku ini berasal dari serial buku Anak-Anak Mamak, yang bercerita tentang 4 bersaudara (salah satu serial Tereliye favoritku btw).  Buku yang satu ini berfokus kepada Amelia sang anak bungsu, aku sebagai anak sulung suka aja gitu liat sudut pandang lain. Aku juga suka buku ini karena karakter Amelia itu mirip adikku, cengeng. Tapi kalau dibukunya Amelia menjadi anak yang kuat mentalnya, kalo adekku kayaknya gak berubah wkwkwk.

Buku ini bercerita tentang perubahan, Amelia (biasa dipanggil Amel) dari anak yang cengeng, dan keras kepala menjadi baik hati dan sering membantu. Amel tetap keras kepala tetapi dalam cara yang jauh lebih baik, yang tadinya keras kepala tidak mau bangun tidur menjadi keras kepala memaksa temannya belajar.

Cerita ini dimulai dengan Amelia mengeluh, ya mengeluh. Karena dibangunkan oleh kakaknya Eli, dan entah kenapa mengeluhkan dirinya yang terlahir sebagai anak bungsu. Setelah keluhan itu kita dapat semacam introduksi, melihat kehidupan Amelia di sekolahnya. Amelia hanya memiliki satu teman dekat di sekolah yang bernama Maya. Dan seorang... musuh yang bernama Chuck Norris. Iya Chuck Norris kayak aktor terkenal itu. Karena ayahnya tergila-gila film aksi jadilah anaknya dinamakan Chuck Norris. Chuck Norris ini, walaupun  namanya terdengar konyol, nanti dia akan menjadi karakter penting. Maya sangat sangat membenci Chuck Norris karena kelakuannya yang serampangan dan pemalas. Amelia juga sangat pintar, ranking 1 dikelas, bahkan beberapa kali diminta Pak Bin (guru sekolah mereka) untuk membantu mengajar.

Nah sampai sini, aku berpikir, Amelia hidupnya lumayan tenang ya, walaupun sering mengeluh bahagia-bahagia juga. Aku salah karena tepat setelah introduksi nya selesai...bam! Kejadian besar pertama dimulai. Bermula ketika Amelia terus-menerus mengeluh tentang menjadi anak bungsu, kak Eli membencinya, dan seterusnya. Hingga ayahnya menjatuhkan hukuman kepadanya, “Kerjakan hal-hal yang biasa dikerjakan kak Eli selama seminggu.” Tidak terdengar begitu buruk bukan? Awalnya memang tidak begitu buruk. Hidup Amelia jadi tambah susah sedikit, tapi gak parah-parah amat. Hingga pada hari ke-4 atau 5 hukuman, Amelia diminta untuk mencari kayu bakar di hutan. Karena ini tugas yang susah, kak Eli tetap menemani. Mengumpulkan kayu bakarnya berlangsung lumayan lancar, tetapi lama-kelamaan Amelia bertambah lelah.

Hari menjelang malam saat keranjang kayu sudah penuh sehingga Amelia dan Eli beranjak pulang. Lalu Amelia terpeleset dan kakinya terkilir tidak bisa jalan. Tanpa basa-basi Eli langsung menggendongnya. Mengutip dari bukunya “Kau adikku, aku tidak akan pernah meninggalkan kau Amel”. Lalu Eli berjalan, lama, cukup lama bagi Amelia untuk merenungi hidupnya dan berhenti membenci kakaknya yang sangat menyayanginya. Eli pingsan kelelahan setelah sampai di rumah lalu dilarikan ke rumah sakit bersama Amelia yang  ternyata kakinya patah.

Selanjutnya diceritakan tentang kehidupan Ameia di sekolah,  pertemanan Amelia dengan Maya... dan perkelahian-perkelahiannya dengan Chuck Norris, yang mulai sekarang aku panggil Norris seperti Amelia memanggilnya. Dari mengganggu kelas, sampai cabut ketika lagi piket, Norris gak ada capek-capeknya bikin masalah. Dari sini, kalian mungkin bisa menyimpulkan bahwa Amelia, anak yang pintar dan baik, membenci Norris karena kelakuannya. Ya kalian benar..hingga serangkaian kejadian yang mengubah pikiran Amelia.

Kejadian pertama adalah ketika Amelia ngobrol dengan ayahnya dan mengetahui tentang perceraian ayah dan ibu Norris. Bahwa Julaiha, ibu Norris, yang tadinya bintang film jatuh cinta kepada ayah Norris, meninggalkan segala kemewahannya dan pergi tinggal di desa bersama ayah Norris. Dan perceraiannya terjadi karena Julaiha tidak tahan beban hidup dan menjadi gila. Perasaan Amelia terhadap Norris menjadi berubah. Yang tadinya benci menjadi kasihan. Lalu, tidak hanya mengetahui masa lalunya. Amelia juga diajak mengobrol oleh Pak Bin yang mengatakan bahwa  Norris, walaupun nakal adalah seorang anak yang pintar. Dan Amelia juga memikirkan kata-kata Pak Bin (karena Pak Bin guru yang hebat) mungkin Norris benar-benar pintar... Mungkin ia hanya trauma kehilangan ibunya, makanya menjadi nakal begini. Kecurigaan Amelia terbukti benar ketika ia bertemu Norris di Pasar Kalangan, semacam pasar minggu gitu. Dan ternyata ia dan Norris ingin membeli buku yang sama, sebuah buku geografi. Amelia sempat berpikir  “Norris kan tidak pernah belajar, kenapa dia mau beli buku seperti ini?” Tapi...entah kenapa Norris sangat menginginkannya, sampai membuat keributan dengan memaksa Amelia menjual ulang bukunya. Amelia sempat merenungi sebentar, tetapi karena bukunya sudah terbeli olehnya Amelia membawa bukunya pulang. Seenak jidat banget Norris mau membeli ulang. Tapi, sampai di rumah Amelia terhenyak. Mungkin Pak Bin benar, mungkin Norris memang anak pintar, mungkin dia bisa berubah. Lalu, Amelia memberikan buku itu kepada Norris.

Setelah pemberian buku itu kita bisa melihat “permusuhan” Amelia dan Norris berubah. Yang tadinya bermusuhan menjadi bersahabat. Belajar bareng, walau awalnya Amelia datang dan memaksa Norris untuk bealajar lama-kelamaan mereka menjadi teman. Amelia bahkan membantu Norris lulus ujian! (bukan nyontek ya wkwkwk, belajar bareng). Lalu... Terjadi suatu kejadian yang membuat kebencian  Amelia memuncak kembali.

Hari itu piket, Norris ikut Amelia memintanya membereskan peta dunia sekolah. Berhubung sekolah mereka sekolah desa kecil, mereka hanya memiliki satu peta dunia. Ditengah-tengah piket hujan deras mengguyur, Amelia tidak terlalu memikirkannya, memang musim hujan. Tetapi..ketika Amelia berjalan keluar setelah menyapu kelas, sebuah kejutan tidak menyenangkan menunggunya.  Norris pergi, peta dunianya ditinggal di teras sekolah, basah kuyup, hancur. Amelia mendatangi rumah Norris, lalu aku kutip dari bukunya “Kau merusak peta dunia milik sekolah! Tidakkah kau mau berpikir sedikit, hah? Tidakkah kau mau melakukan tanggung jawab dengan baik, hah? Apa susahnya kau bawa gulungan peta itu ke ruang guru, paling hanya tiga puluh detik”, dst. Amelia sangat marah, entah sampai kapan, berhari-hari kemarahannya belum kunjung reda. Norris tidak masuk sekolah, ya mau gimana masuk? Satu sekolah membencinya.

Sampai suatu hari Norris kembali dengan membawa peta dunia baru! Seluruh sekolah, bahkan Pak Bin terbengong-bengong. Karena peta itu ia buat sendiri! Dengan kemampuan menggambarnya yang spektakuler. Amelia bersyukur, ternyata usahanya selama ini tidak sia-sia. Memaksa mengajaknya belajar, memberikan buku geografinya, Norris ternyata berhasil menjadi orang yang lebih baik. Dan, dalam prosesnya, Amelia juga.

Itu tadi adalah 2 kejadian besar pertama buku ini. Kejadian yang membentuk karakter Amelia. Dari cengeng, tukang mengeluh, dan keras kepala menjadi mandiri, tahan banting, dan...tetap keras kepala, tapi untuk tujuan yang baik. Karakter Amelia bisa dibilang sudah matang disini. Kejadian-kejadian ini mempersiapkan Amelia untuk kejadian terbesar di buku ini. Bila kalian ingin tahu, silahkan baca bukunya.

 

Sunday, July 12, 2020

"Lah Kok Serem?" Review Buku The Witches

Kali ini post nya berbeda dari biasanya gaiiis~ untuk yang tidak membaca update ku akan akan mulai melakukan book review. Jadi... langsung saja ini book review pertamaku!

Aku akan me review buku yang berjudulkan "The Witches" yang ditulis Roald Dahl (salah satu author favoritku btw). Aku memilih buku ini karena membuatku ketakutan semasa kecil. Roald Dahl yang biasanya menulis buku yang sangat ceria suddenly took a turn on the scarier side.

Dari sisi penulisan buku ini mirip dengan buku Roald Dahl yang lain, hanya... mood ceritanya sangat berbeda. Contoh sedikit, buku lain Roald Dahl, charlie and the chocolate factory bercerita tentang sebuah anak yang dapat tiket spesial untuk mengunjungi perusahaan coklat. Jadi sebagai anak yang terbiasa membaca buku-buku Roald Dahl yang berbahagia, buku ini agak membuatku trauma- dan tentunya sangat meninggalkan kesan.

Oke enough rambling about me, kita masuk ke ceritanya, buku ini bercerita tentang, seorang anak yang ... tidak diketahui namanya (biasanya memang begini) dan pengalamannya dengan... Penyihir. Ah iya, "penyihir" disini bukan seperti penyihir yang biasa kalian dengar, naik sapu, bikin ramuan, dsb. Ini penyihir sungguhan. penyihir yang botak, tidak punya jari kaki, dan sangat membenci anak-anak.

Cerita ini bermula dengan sang anak diceritakan tentang penyihir oleh neneknya, dan kasus anak-anak hilang yang disebabkan oleh penyihir. Beberapa halaman ini langsung set the mood untuk bukunya, dari anak yang jadi batu hingga anak yang masuk ke lukisan, semuanya sangat aneh dan menyeramkan. 

Dalam perjalanan pulang dari rumah neneknya... sang anak terjebak dalam sebuah kecelakaan mobil dan kedua orangtuanya meninggal, sekarang dia hanya tinggal bersama neneknya di Inggris. Hidup di Inggris cukup tenang, hingga mereka bertemu penyihir. Atau lebih tepatnya, sang anak bertemu penyihir ketika dia sedang sendirian, dia sedang duduk-duduk di rumah pohon, just chillin ketika tiba-tiba ada yang memanggilnya dari bawah. Dan surprise surprise orang itu memakai sarung tangan. Ah, aku lupa bilang penyihir itu tidak mempunyai kuku seperti manusia biasa, mereka memiliki cakar dan untuk menutupi cakar itu mereka menggunakan sarung tangan. Sang anak membeku, dia ketakutan dan tidak tahu mau melakukan apa, apakah dia panggil nenek? Apakah dia lari? Pada akhirnya sang anak hanya duduk ketakutan di rumah pohon.

Apa yang terjadi pada sang anak? Aku akan meng-quote langsung dari bukunya

"pada pertemuan pertama aku berhasi pergi dengan selamat, tapi pada pertemuan kedua aku tidak seberuntung itu"

Kapankah pertemuan kedua itu? Dan apa yang terjadi pada sang anak? Akan kuceritakan sekarang.

Pertemuan kedua bermula ketika sang anak dan neneknya pergi ke hotel untuk liburan musim panas, dan sang anak membawa tikus-tikusnya. Sayangnya hotelnya tidak mengizinkan hewan peliharaan, jadi dia menyembunyikan mereka dan bermain dengan mereka di sisi backstage sebuah auditorium kosong. Tetapi, auditoriumnya tidak kosong, and long story shortdia sekarang terjebak di sebuah auditorium dengan anggota-anggota PPKTAA (Perkumpulan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak-Anak). Ah, baguslah kalau terperangkap paling tidak sama wanita-wanita yang baik... tetapi setelah menunggu sebentar sang anak melihat beberapa kejanggalan. Semua orang disana wanita (penyihir hanya wanita) dan semuanya memakai sarung tangan. Sang anak mulai was-was, dia berpikir... kayaknya ini agak terlalu baik, dan sayangnya... dia benar.

Pintunya dikunci dengan rantai, rantai yang besar agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk (atau keluar). Dan sang pembawa acara naik ke podium, dia adalah wanita yang sangat cantik memakai sepatu berhak tajam dan.... sarung tangan. Dan semua wanita (penyihir) disana memandanginya dengan terkagum-kagum dan tiba-tiba, dia melepas topengnya. Muka aslinya terlihat, lebih mirip monster daripada manusia! Wajahnya hampir meleleh, seperti orang gak tidur dua bulan. Sang anak bergidik ketakutan di area backstage, ternyata ini toh sang ratu penyihir! Pemimpin segala penyihir, penyihir yang paling kuat dan sangat ditakuti para penyihir lain. Lalu ia berbicara, suaranya seperti besi beradu "kalian boleh melepasss sepatu kalian!" terdengar desah lega dari para penyihir "kalian boleh melepas vig kalian!" Cara bicaranya agak aneh, dia sepertinya tidak bisa mengucapkan huruf w dan kalau mengatakan s ditahan seperti ular mendesis.

Sang ratu penyihir memulai pidatonya, dia terdengar sangat sangat marah.

"aku melihat ratusssan, aku melihan ribuan anak kecil yang menjijikkan sedang bermain di passir! Kenapa kalian belum menyingkirkan mereka?!"

"sssatu anak ssseminggu tidak cukup untukku!" "Aku menuntut hasil maksssimal! Jadi ini perintahku! Kuperintahkan agar semua anak di negeri ini disssapu bersssih diganyang disssikat dan dihabisssi sssebelum aku kembali kemari, Jelasss?!"

Hadirin terksesiap, terdiam tidak tahu harus bilang atau melakukan apa, ketika seorang penyihir bergumam sendiri "semua anak? kita tidak mungkin menghabisi mereka semua" dan ratu penyihir mendengarnya.

"Sssiapa yang bicara?" "SSSIAPA YANG BERANI MEMBANTAHKU? KAU YA?"

sang ratu penyihir menunjuk ke penyihir yang bergumam tadi, sang penyihir langsung ketakutan, "t-tidak kok ratu aku tidak mungk-" poof dia menghilang, terbakar menjadi abu. Sang ratu penyihir melanjutkan pidatonya tentang bagaimana dia membenci anak-anak. Lalu dia mengatakan bahwa ia berhasil membuat ramuan baru, namanya "Ramuan 86 pembuat tikus yang tertunda" dan menjelaskan cara membuatnya. Apa yang dilakukannya, yah kalau namanya belum cukup jelas, ramuannya membuat anak-anak menjadi tikus, yap tikus dan efeknya tertunda beberapa jam.

Lalu, sang penyihir mengundang seorang anak, Bruno Jenkins namanya, sang ratu penyihir memberinya Ramuan pembuat tikusnya hari sebelumnya dan mengundangnya datang dan menjanjikannya permen. Bruno masuk ke ruangan, (tentunya semua penyihir sudah pakai sarung tangan topi dan sepatu lagi) dan mengatakan "permanku mana?" Dan sang ratu mengatakan "tunggu sebentar" dalam suara yang, anehnya normal lagi. Lalu dia menghitung "10 9 8 7 6 5" dst dengan sangat bersemangat. Bruno sempat curiga tapi dia berpikir "meh, aku dapat permen", ketika sampai "nol!" Tiba-tiba Bruno mengecil, tumbuh bulu, dan tumbuh ekor. "Apa yang terjadi kepadaku?" "Apakah aku tetap dapat permen?" Dan setelah beberapa menit setelah perubahannya dimulai, Bruno sudah berubah 100% menjadi tikus besar berwarna coklat. Dan para penyihir tertawa seperti orang gila.

Ketika para penyihir sedang mencoba untuk mengjinjak Bruno agar dia mati (kejam iya) tiba-tiba salah satu dari mereka bilang "Aku mencium tahi anjing!" Sang anak, yang daritadi melihat dari area backstage, langsung bergidik, karena bagi penyihir... bau anak-anak sama seperti bau tahi anjing. "Apakah mereka mencium bauku, aku sudah beberapa minggu tidak mandi masa mereka mecium bauku", penjelasan sedikit, yang dicium oleh penyihir adalah bau anaknya bukan kotorannya jadi, semakin tubuhmu tertutup kotoran semakin baumu tertutupi (eh tapi ini untuk penyihir ya emakmu gabakal suka).

Tapi pada akhirnya sang anak ditemukan seorang penyihir melihatnya dan mengatakan "itu dia, dibalik papan pemisah ruangan!". Sang anak berlali menuju pintu, para penyihir bahkan tidak moncoba mengejarnya karena tahu dia tidak bisa keluar, mereka berjalan kepadanya, menangkapnya dan meminumkannya ramuan. Sebelum sang anak sadar betul apa yang terjadi padanya dia sudah berubah menjadi tikus.

Tapi, untungnya dia berhasil kabur dari cengkraman penyihir-penyihir yang ingin membunuhnya (nginjek tikus pake hak tinggi susah) dan kabur melewati lubang kecil di tembok. Di dalam tembok dia bertemu Bruno, yang tampaknya tidak sadar dia sudah menjadi tikus dan sedang mengunyah remah roti dengan bahagia. Setelah... pembicaraan yang agak aneh dan Bruno existential crisis karena menjadi tikus, sang anak dan Bruno menuju nenek sang anak untuk meminta pertolongan.

Ah iya, untuk nenek sang anak dalam bagian-bagian selanjutnya dia akan kupanggil sebagai "nenek" saja karena seperti sang anak, ia tidak diketahui namanya. Setelah hampir diinjak sepasang suami-istri di lift, sang anak dan Bruno berhasil sampai ke kamar nenek. Sesampainya di kamar nenek, nenek tidak terlalu terkejut, bukannya menanyakan "kenapa kamu bisa jadi tikus?" atau apa, nenek malah bertanya tentang penyihirnya. Sang anak mengatakan, "penyihirnya bukan cuma satu nek ada ratusan, mereka menyamar sebagai PPKTAA dan sekarang sedang minum teh dengan manager hotel". Lalu mereka mengobrol sebentar, tentang rupa ratu penyihir, penyihir-penyihir yang disana, satu penyihir yang diubah menjadi abu dsb. Lalu, ditengah pembicaraan itu, nenek mendapat ide "kamu yakin kan, mereka sedang dibawah minum teh?" "iya nek" lalu, nenek mengemukakan idenya kepada sang anak, mereka akan mencuri ramuan pembuat tikusnya and give the witches their own medicine.

Didalam pidatonya, raut penyihir mengatakan bahwa ia menyimpan beberapa sampel ramuan pembuat tikus di kamarnya, untuk percobaan dan untuk penyihir yang sudah tua dan mungkin tidak kuat mengumpulkan bahan-bahannya. Sang ratu penyihir mengatak, bila ada yang mau ramuannya bisa diambil di kamar 454, dan kamar sang anak adalah kamar... 554 tepat diatasnya. Jadi, rencananya sang anak akan turun ke kamar sang ratu penyahiri (bergelantung kepada benang rajut neneknya) mengambil ramuan, dan naik lagi. Mudah kan? Tidak terlalu, rencananya hampir gagal karena ratu penyihir kembali keatas, tapi mereka dapat ramuannya. Dan selama semua ini terjadi Bruno dengan damainya memakan pisang yang diberikan oleh nenek.

Mereka mendapat ramuannya, dan sekarang tinggal mencampurkannya ke makanan para penyihir easier said than done, para penyihir memesan sup istimewa untuk alasan tertentu, tinggal dicampurkan ke supnya saja kan? Tapi mencampurkannya itu, ohohoh itu akan sangat menarik. Tapi, sebelum itu ada Bruno, anak satunya yang diubah menjadi tikus. Mau diapakan dia? Diminta ikut membantu? Tapi nanti malah supnya dia makan. Setelah berpikir beberapa lama, sang anak dan memutuskan untuk menemui pak dan bu Jenkins dan mengatakan bahwa anak mereka jadi tikus, reaksi mereka kurang lebih seperti... "orang tua gila!" "anak kami tidak apa-apa kok" dan mereka pergi dengan marah. Sang anak dan nenek langsung melirik ke Bruno, "kenapa kamu tidak berbicara tadi?!" "maaf, mulutku penuh pisang" haduh, mau hujan mau angin mau jadi tikus Bruno makan terus.

Setelah, kegagalan berbicara dengan orangtua Bruno, sang anak dan nenek memulai rencana untuk mengubah semua penyihir menjadi tikus. Nenek menyembunyikan sang anak kedalam tasnya dan memasukannya ke dapur, sang anak berhasi masuk ke dapur dan memasukkan ramuan ke dalam sup tanpa ketahuan, sukses! Sekarang tinggal... Keluar, sang anak bergelayut menggunakan ekornya dari gantungan-ke gantungan menuju pintu keluar, semua terlihat sangat mulus, lalu... Prang! Peralatan masak berjatuhan, rupanya sang anak salah lihat, dan malah bergelayut ke sebuah panci. Tidak sampai sedetik kemudian terdengar teriakan koki. "Ada tikus!" "Bunuh! Bunuh!" Sang anak lari terbirit-birit menghindari injakan, lemparan panci, teflon, dan pisau, sayangnya satu lemparan pisau kena dan memotong ekornya. Tapi, syukurlah sang anak berhasil berlari dan bersembunyi didalam karung kentang, menyelinap keluar dan kembali ke pelukan nenek. Sekarang... Tinggal menunggu.

Sambil menunggu, sang anak dan nenek memutuskan untuk mengatakan kepad pak dan bu Jenkins bahwa anaknya menjadi tikus lagi. "Kamu tidak sedang mengunyah makanan kan Bruno?" "Tidak kok, lagian tadi kan cuman sekali". Kali ini mereka hanya bertemu pak Jenkins yang langsung mengatakan "mau bilang anakku tikus lagi?" dan ketika pak Jenkins mengatakan itu Bruno muncul "hai pa, aku jadi tikus". Pak Jenkins sontak terkejut, setelah tenang dan menerima bahwa anaknya menjadi tikus dia mengatakan "bu Jenkins bisa pingsan kalau dia tahu!" "siapa yang menyebabkan ini aku mau berbicara sedikit dengannya". Nenek menunjuk ke sang ratu penyihir "dia" pak Jenkins menjawab "tidak mungkin! Dia pemimpin PPKTAA!" Lalu sang anak mengatakan "PPKTAA itu organisasi penyihir, dan dia ratunya" tidak mengatakan apa- apa lagi, pak Jenkins berjalan menuju sang ratu penyihir, dan dia terlihat marah. Sang anak merinding, dia membayangkan pak Jengkins diubah menjadi abu seperti salah-satu penyihir. Tetapi... sebelum itu ada sesuatu yang terjadi. Apa yang terjadi? Beli bukunya dan cari tahu.

Diatas tadi itu kurang-lebih ceritanya, mungkin ada bagian yang terlompat sedikit mohon dimaklumilah. Menurutku, buku ini sangat bagus, dari perspektif karakte antagonisnya aktif dan unik kinda lacks personality tapi tetap bagus. Semua karakternya berasa real, dengan kepribadian tersendiri, bukan plot device doang (penyihirnya mungkin iya). Dan yang paling aku suka tuh konfliknya, ceritanya banyak bagian yang menegangkan. Tapi kita diberi semacam... Waktu berpikir dengan bagian-bagian yang relatif tenang, ketika sang anak dan Bruno (yang jadi tikus) di pangkuan nenek lalu kembali lagi ke action dengan adegan memasukan ramuan ke sup para penyihir.

All in all, kuberi buku ini rating 3.5/5 btw, buku ini gak terlalu seram kok  dulu aku penakut aja wkwkwk.





Tuesday, June 30, 2020

Content change~

Halo syauqi disini mau update sedikit, karena sekarang lagi pandemi, dan aku gak mau kena virus aku tidak bisa membuat konten blog travelling seperti biasa.

"Terus, blognya berhenti?"

Tadinya aku juga berpikir begitu, pergi ke supermarket dibikin tulisan kan gak lucu. Lalu, aku melihat ke rak, dan menyadari sesuatu yang bisa aku lakukan dirumah tanpa harus keluar dan (aku harap) menarik yaitu... Review buku! Karena aku punya... banyak banyak sekali buku, (banyak yang belom dibaca) yang difoto itu bagaikan preview untuk buku-buku yang aku punya. Kalau diambil semua mah bisa-bisa amburadul rumahku wkwk.



Dari entah berapa banyak buku yang ada di rumahku aku sudah membaca kurang lebih 300 dari berbagai macam genre. ada yang action, fantasi, komedi (banyaknya ini sih), dan bahkan romance. Bisa dibilang aku sudah lumayan berpengalaman lah dengan buku (gak terlalu asal-asalan book review nya git loh wkwkwk.)
.









Don't forget, when you're reading my book reviews, it's all just my opinion. If you have a different opinion, go ahead and drop your link of your review in the comment section, I will gladly read it.

Thursday, April 16, 2020

Recap Oase 2020~

Sayang banget, karena yah alasan tertentu term ini berakhir cepat, sampai penutupannya pun online.  Oke, langusng to the point, ini recap ku untuk term (pendek) ini.

Pertama-tama.... kegiatan yang paling berkesan, adalah kelas menulis. Walau sejujurnya, agak membosankan (aku hampir ketiduran) kelas ini mengajarkanku banyak teknik menulis baru yang sangat menarik dan juga berguna.

Harapanku untuk kedepannya adalah.... hmm....MAU EKSPLORASI LAGI!

Sunday, March 8, 2020

Tantangan Wide Games

1. Stasiun KRL/MRT/Halte Transjakarta yang termasuk wilayah Jakarta

-KRL

  • Jakarta Kota
  • Jayakarta
  • Mangga Besar 
  • Sawah Besar
  • Juanda
  • Gondangdia
  • Cikini
  • Manggarai
  • Kampung Bandan
  • Angke
  • Duri
  • Tanah Abang
  • Karet
  • Sudirman
  • Palmerah
  • Kebayoran
  • Taman Kota
  • Pesing
  • Grogol
  • Rajawali
  • Kemayoran
  • Pasar Senen
  • Gang Sentiong
  • Kramat
  • Pondok Jati
  • Jatinegara
  • Klender
  • Buaran
  • Klender Baru
  • Cakung
  • Kranji
  • Tebet 
  • Cawang
  • Duren Kalibata
  • Pasar Minggu Baru
  • Pasar Minggu
  • Tanjung Barat
  • Lenteng Agung
  • Univ. Pancasila


-Halte Transjakarta

  • Semua, namanya aja Transjakarta

-MRT
  • Depo
  • Lebak Bulus Grab
  • Fatmawati
  • Cipete Raya
  • Haji Nawi
  • Blok A
  • Blok M BCA
  • ASEAN
  • Senayan
  • Istora Mandiri
  • Bendungan Hilir
  • Setiabud Astra
  • Dukuh Atas BNI
  • Bundaran HI
2.  Kendaraan umum pilihan regu

KRL dan Transjakarta karena MRT mahal

3. Start/Finish point

Start di stasiun Jakarta Kota karena bisa kemana-mana dari situ
Finish di halte gelora bung karno karena tempat menarik terakhir disini
















Friday, March 6, 2020

Tinggi Banget....

Aku mengambil foto ini pada hari terakhir liburanku di Brunei Darussalam, negara kecil di Asia Tenggara yang kebanyakan duit, sampai kubah masjid dilapisi emas.

Kampong Ayer
Ketika aku mengambil foto ini kami (aku dan keluargaku) sedang berwisata mengelilingi Kampong Ayer. Ah iya, penjelasan sedikit Kampong adalah pelesetan kampung dan Ayer adalah pelesetan air, jadi tempat ini adalah kampung diatas air. Untuk kalian yang gak terlalu banyak duit daripada ke Venice mending ke sini nih. Kesan pertamaku saat datang di desa ini adalah... sepi banget, hah jadi ornamen doang? Terus aku masuk lebih dalam ke kampungya, ternyata... wow, ternyata ramenya kayak kampung biasa. Ada yang nyuci baju, beli makan di warung, anak-anak ke sekolah, bakan lengkap dengan ibu-ibu yang nge gossip depan rumah. Untuk lokasi kampung ini berada di daerah Bandar Seri Begawan, sekitar 6 km dari masjid Omar Ali Saifuddien


Jembatan RIPAS
Dari jauh, aku melihat jembatannya, aku awalnya hanya melihat ujung tertingginya saja nongol diatas atap-atap rumah. "hah apaan tuh, masa ada gedung setinggi itu diatas air?" Perahu yang aku naiki bergerak mendekati jembatannya, gila tinggi banget. Jembatan ini menjulang tinggi dengan ketinggian 157 meter dan juga memiliki panjang 300 meter! Nama jembatan ini adalah jembatan Raja Istri Pengiran Anak Hajah Saleha, dan karena panjang banget, biasa disingkat RIPAS. Aku sedang senang-senangya mengagumi pemandangan ketika perahu kami putar balik, sudah 30 menit kami berkeliling, kami sudah harus kembali ke daratan.

Yah, sampai sini saja ceritaku melihat jembatan sekaligus bangunan tertinggi di Brunei termakasih sudah membaca sampai akhir!








Saturday, December 21, 2019

Auranya Aja Udah Beda, USM

USM, atau Universiti Sains Malaysia, cerita tentang bagaimana aku kesini cukup panjang. Intinya, semacam survei lokasi lah, kan siapa tahu aku tertarik untuk kuliah kesini.

Aku dan keluargaku berjalan berkeliling, sempat bertanya tentang beberapa hal juga. Universitasnya menurutku baguus banget. Luas, besar dan sangat rapi, kendaraan yang lalu-lalang hanya mobil dan bus khusus kampus. Dan yang jalan tuh hanya mahasiswa, gak ada pedagang masuk, apalagi angkot. Memang ya, universitas bagus itu beda, universitas ini masuk ranking 165 di dunia menurut  QS Top Universities dan ranking 601-800 di times higher education (THE). Aura disini aja udah beda aura-aura pinter gitu wkwkwk.
Halte bis kampus

Lalu setelah berkeliling sebentar lagi aku juga menyadari sesuatu yang lain, fasilitasnya lengkap banget. Di setiap fakultas ada halte bis, ada banyak tempat makan juga. Ternyata... setelah semua hal keren itu, setelah sampai di rumah aku diceritakan oleh ibuku sebuah detail yang ternyata belum ku perhatikan dan membuatku kaget dan kagum. Ternyata, tidak ada orang yang main handphone! benar-benar Tidak ada gak kayak warga +62 nih yang dikit-dikit buka hp, disana orang jalan ya jalan gak sambil pegang hp, fokus. Gak ada ceritanya nungguin makan sambil main hp, jadi gini ya, mentalitas orang pinter wkwkwk.

Dari berkeliling sebentar di USM, aku menyimpulkan bahwa tempat ini bisalah jadi salah satu opsi tempat kuliah, diantara beberapa pilihan lain, dan kampus-kampus lain yang pernah kami kunjungi/survey.
(Sekarang pertanyaanya kira-kira aku sanggup ga ya ke sini?  hehehe. InsyaAlloh bisa lah ya)







"Lah Kok Monyetnya Sampai Sini" Penang National Park

Penang National Park, banyak sekali yang bisa dilakukan disini.

Ada pantai yang ada penyunya, ada beberapa bukit juga, tapi adik-adikku lebih tertarik melakukan satu hal, maen pasir. Alhasil, kami pergi ke monkey beach. Pantainya sendiri bagus banget tapi tidak terlalu banyak hal unik, monyet doang normal lah. Demi tidak kebosanan nemenin adik-adik main pasir 2 jam. Kami berencana pergi trekking ke mercusuar (kalau bahasa Malaysia nya "rumah api") yang ada di pulau itu. 

Papan informasi rumah api
Nanjak gaes
Kami mulai berjalan dari papan informasi. Aku berpikir, ah 1 koma 2 kilo biasa aja ini mah.....Kenyataannya, satu kilo sih satu kilo tapi nanjak bingits ampir vertikal hehehe. Nanjaknya kagak berhenti, dari satu tangga ke tangga lainnya, baru 300 meter kami sudah terengah-engah. Kami seringkali istirahat dulu, lalu lanjut lagi, capek lagi, istirahat lagi. Waktu istirahat kami sempat buka cemilan.. Lagi enak-enaknya ngemil entah darimana tiba-tiba ada monyet muncul kayaknya dia mencium bau makanan kami. Hmm, tanpa ngeliat si monyet yang ngikutin kami bergegas lanjut jalan aja sambil megangin tas kenceng-kenceng. Akhirnya monyetnya bosan dan pergi.  Setelah beberapa ratus meter, ibu dan adik-adikku balik kanan kembali ke pantai karena kecapekan. Aku dan ayahku terus jalan lagi rinse and repeat dan akhirnya...kita sampai!
Laut dilihat dari mercusuar
Penang Hill

Wah pemandangannya.....dari atas sini terlihat ternyata di lautnya ada semacam gradasi warna. Makin jauh dari pantai warnanya makin gelap, wuah keren banget. Ya, lumayan worth it lah kita ngabisin aer satu botol.

Eksis dulu sama monyet
Tiba-tiba aku mendengar ada yang berjalan di sampingku dan ayahku. Hah apaan tuh, perasaan tadi naik berdua doang. Ternyataaaa ada lagi tuh monyet.... "AaaaaAAAaaAaAAAH kok monyetnya sampai sini?!?". Kliatannya dia masih tertarik sama barang-barang kami. Ah, udah diikutin gini sekalian dimanfaatkan saja, terus kita jadinya foto-foto sama monyetnya. Abis tu aku dan ayahku berlarian turun kabur dari mercusuar dan si monyet. Kami tiba di pantai sambil ngos-ngosan... lanjut menemani adik-adikku main pasir. Dasar monyet...:)

Kereta Langsung Keatas Gunung, Penang Hill

Antriannya mengintimidasi 
Ketika sedang membuat itinerary aku sempat terkejut melihat ini "wah, keretanya langsung keatas gunung? harus dicoba nih!" Kapok terkena antrian panjang pada sabtu sore, (panjaaaang banget, kaya ibu-ibu ngantri kalau ada diskonan di supermarket) kami datang senin pagi. Beberapa puluh menit setelah tempatnya buka langitnya masih agak gelap. Dan sudah sepagi itu pun masih ada yang ngantri naik kereta (walau gak banyak sih). 
Nanjaaaak

setelah medapatkan tiket, kami menuju ke keretanya, lalu aku melihat rel keretanya... HEH, INI NANJAK GINI MOBIL AJA GAK BISA KERETA GIMANA??? Setelah perjalanan dua puluh menit yang cukup menegangkan, sampai juga di atas Penang Hill. Aaaah..serem juga tadi, kalo keretanya gak kuat gimana ya?



Kotak pos kuno
Sebelum mulai menceritakan hal yang aku alami, ada hal yang lumayan disayangkan disini. Aku perlu mengejar jadwal pesawat jadi tidak sempat keliling terlalu banyak, hanya muter-muter naik buggy saja :( Padahal ada banyak sekali hal menarik disana, bisa trekking ke hutan, makan-makan, atau bahkan melihat bangunan-bangunan bersejarah...On the bright side, pemandangan disini bagus banget. Satu Penang kelihatan, eh jangankan satu Penang, mainland Malaysia pun keliatan. Rasanya kayak udah di atas awan (eh padahal cuman beberapa ratus meter). Oh iya, sedikit sejarah tentang Penang Hill, awalnya bukit itu tuh semacam komplek perumahan pada zaman penjajahan Inggris. Untuk memudahkan transportasi  naik turun gunung dibuatlah kereta dan karena unik dijadikan tempat wisata. Aku kira tuh kereta cuman buat menarik perhatian turis aje. Bahkan, sampai sekarang masih ada beberapa hal peninggalan Inggris loh... ada rumah, kotak pos dsb.

Dan itu adalah pengalamanku yang (lumayan pendek) di Penang Hill, ada banyak yang aku belum kesampean nyoba, tapi pokoknya tampatnya bagus dan recommended banget deh.

Nasi Kandar: Warteg 2.0

Nasi Kandar, makanan khas Penang, dan hal menarik pertama yang aku tuju di Penang. Karena mau makan Nasi Kandar yang best of the best, kami langsung menuju Nasi Kandar Deen's Maju, nasi Kandar paling enak di Penang. Deskripsi sedikit, Nasi Kandar itu kalau dibandingkan dengan yang disini agak mirip warteg lah. Serba cepat ambil nasi, pilih lauk terus makaan. 

Nah, nasinya kan diambilkan sama pegawainya, aku sempat kaget tuh "hah? kok banyak banget, gimana ngabisinnya ini". Walau merasa nasinya agak kebanyakan aku tetap lanjut memilih lauk, yang (kalau aku mengingat dengan benar) terdiri dari, ayam goreng, udang yang guedeeeee! dan telur dadar, yang disiram dengan kuah kari. Bahkan ketika sudah duduk di meja pun, "kayaknya gak habis deh" lalu, aku makan sesuap, dan sesuap lagi, dan lagi, lagi hingga "hah kok udah abis sih?" Emang makanan enak tuh gak berasa masuk ke perut ya wkwkwk. 
Antriannya sampai ke
gang sebelah restoran!

Rasanya itu hmm, ayam gorengnya dibumbui dengan sangat enak, perpaduan antara manis asin dan gurih. Udangnya sama sekali tidak amis dan telur dadarnya... diisi apa aja aku sudah lupa. Sekarang aku mengerti kenapa orang ngantri kesini udah kayak ular naga. Dabest banget ini, kalau ke Penang harus kesini lah pokoknya, top markotop.






Pengalamanku Pertama Kali Mempersiapkan Rencana Perjalanan Keluar Negeri (Itinerary)

Jadi, karena disuruh sama umi, aku akan mempersiapkan dan menyusun itinerary sebuah perjalanan, sekeluarga, Keluar negeri (Penang, Malaysia)  waduh gimana nih.

Salah satu satu alasan aku memilih Penang sebagai destinasi adalah, makanan, ya makanan. Aku pergi ke negara sebelah cuman karena pengen memanjakan lidah (ya gak gitu juga sih, mau belanja juga :P :P )

CNN Travel: Penang among best destinations for ultimate Asia experience
link-nya disini ya.

It said George Town, the island's main city, made for an ideal home base, thanks to a dynamic cityscape that's punctuated by British colonial architecture, Buddhist temples and ornate Chinese manor houses. “This seaside city is known as one of the world's top food destinations, serving up a delicious mix of Malay, Chinese and Indian cuisine."

Coba baca tulisan diatas tadi, menarik kan, wah salah satu tempat makanan terenak di dunia? Deket pula, setelah membaca artikel ini dan beberapa artikel serupa aku sangat bersemangat untuk mencari makanan-makanan terenak di Penang.

Ayo mulai, selama beberapa jam aku mencari, sana-sini lihat artikel, mempertimbangkan budget agar tetap bisa beli sepatu. Akhirnya listnya jadi juga, makanan-makanan paling top di Penang, Dari Laksa sampai Char Kuey Teow. Tapi,  ternyata aku melupakan sesuatu yang sangat penting, halal, Setelah kuteleusuri lagi, ternyata banyak makanan top yang mengandung alkohol/babi. Yaaaaah nyari lagi deh, dan kali ini tidak lupa dengan filter makanannya harus halal.

Beberapa Rujukan yang aku pakai: penangfoodie.com  tripadvisor.com willflyforfood.net dan masih banyak lagi.

Karena makanan disana sangat enak, aku akan membuat sebuah posting blog untuk review Nasi Kandar, makanan enaknya ulala, membuat lidah bergoyang.

Setelah berhasil menemukan makanan-makanan halal dan enak, aku lanjut mencari hal-hal menarik (yang bukan makanan) di Penang. Nah ini perlu perhitungan lumayan banyak, kalau untuk makanan filternya tidak terlalu banyak (makanan enak mah semua setuju). Tapi kalau ini, beuh banyaaaaak yang perlu dipikirkan, barang yang dibawa, jarak menuju lokasi, dsb dsb. Setelah sekitar 1 jam mencari aku menemukan 2 tempat yang mengakomodasi semua "kebutuhan" keluargaku, Penang Hill dan Penang National Park. Dua-duanya bisa, tapi sebenarnya tidak perlu jalan banyak, ini mengakomodir ibuku dan adik-adikku yang tidak kuat jalan jauh. Di Penang Hill bisa naik kereta, (iya kereta langsung keatas gunung) dan di Penang National Park bisa naik kapal. Di Penang National Park juga ada banyak pantai bagus, ini memenuhi request adik-adikku main di pantai. 


Ah, aku juga mau memberi tahu tentang sesuatu yang lumayan menarik di Penang, jadi di Penang itu ada semacam bis, mirip Transjakarta gitu, namanya Rapid Penang, dan bisnya bisa dibilang keren banget, jadwalnya sudah digital, ada estimasi waktunya sudah kayak KRL disini. Dengan halte yang cukup nyaman dan tersebar di seluruh penjuru kota.

Fyi, itinerary yang aku buat sudah meliputi jadwal harian, dalam satu hari mau kemana saja. Jarak tempuh dari satu lokasi ke lokasi yang lain dan juga estimasi waktunya, serta moda transportasi yang akan kami gunakan. Termasuk: grab, kereta, kapal, sepatu (jalan kaki wkwkwk). Disini aku harus mempertimbangkan, yah ibuku yang gak kuat jalan kaki jauh, adikku yang bayi dan perlu pakai kendaraan nyaman.Setelah itinerary nya akhirnya jadi aku kepikiran, liburan tuh gak gampang ya? Perlu banyak planning ternyata.

Setelah aku berhasil membuat jadwal yang lumayan baik untuk sekeluarga aku lanjut mencari makanan enak lagi, siapa tahu ada yang kelewat tadi wkwkwk.

Ketika aku sedang menulis ini, ibuku bilang: "untuk trip selanjutnya kamu urus duitnya (menyusun budget) ya qi" terus aku bilang "kalau duitnya nyisa boleh buat aku ya" walaupun nanti bakal agak susah, tapi worth it lah, duit, hehehe.

Friday, November 22, 2019

Ditimpuk Rame-Rame Eksplorasi 14 - 15 November 2019

Malam nanti malam perpisahan, ini akan menjadi hari yang panjaaang.

Hari ini dimulai dengan kita mengunjungi pabrik sotong. Untuk yang tidak tahu sotong adalah jajanan yang terbuat dari tepung tapioka. Setelah berjalan naik turun gunung kami sampai di pabrik pembuatan sotong lalu mencoba membuat sotong. Sekembalinya dari pabrik sotong kami kembali ke desa untuk belajar membuat angklung. Pelajaran membuat angklung ini sangat membosankan dan aku ketiduran.

Foto: Anne Adzkia
Nah disini kejadian yang seru dimulai, selesai belajar membuat angklung kami berjalan menuju kolam ikan ingin menangkap ikan yang kami taruh di hari pertama. Nah di sini aku menangkapnya pelan-pelan. Gak nyebur ke kolan seperti yang lain karena kebetulan aku sudah mandi dan males mandi lagi. Aku berhasil keluar dari kolam dengan baju bersih, yes! Terus turun hujan, yahelah jadinya tetep basah deh bajuku. Terus aku dengar "hoi Syauqi masih bersih tuh" dan karena hujan, tanahnya sangat berlumpur hmm yak habislah aku.

Setelah bersih-bersih dan istirahat sebentar., malamnya kami lanjut acara perpisahan. Kami pentas menyanyikan beberapa lagu, kesan pesan, dsb. Terus ada api unggun dan makan-makan, menunya  ikan rica-rica dan sate gule kambing yang spesial dipotong untuk kami...ueeenak tenan. Setelah hari yang sangat melelahkan, malam itu kami tidur cepat.

Esoknya paginya kami menaiki bis kembali ke Jakarta.



Menanam Pohon Eksplorasi 13 November 2019

Hari baru, petualangan baru.

Pagi ini kami diajak Pak Wowo ke kebun kelapa lagi minum kelapa muda, tapi kali ini makan buahnya juga. Setelah itu kami kekurangan kegiatan dan diem-diem doang di rumah sampai lamaaaa. Akhirnya sekitar jam 2 siang kami ada kegiatan, menanam pohon!

Foto: Anne Adzkia
Menanam pohon ini dilakukan sebagai semacam balas budi untuk desa karena Oase sudah menjadi semacam "beban" di desa. Jadi, sore itu kami habiskan dengan menanam pohon. Kelompokku menanam 2 pohon, pohon jambu dan pohon dukuh. Siapa tahu suatu saat nanti bisa balik lagi kesini, bisa diambil tuh buahnya. Di kanan ini foto reguku setelah menanam pohon (yang paling kiri bukan reguku dia temen).

Tepat setelah kita menanam pohon ada hujan lebat. Kebetulan. Pada waktu ini  kami diminta membantu mempersiapkan acara pernikahan keponakan Pak Wowo jadi aku pasang jas hujan. Dan pergi jalan ke sana. Aku kaget ketika ketemu teman-teman di jalan ternyata mereka diminta membantu juga. Jalan agak jauh, kami sampai di tempat dan ternyataaa acaranya diundur karena hujan, waduh gimana nih?

Jadi, acaranya diundur dan kita berada di tengah jalan memakai jas hujan, kebingungan gak tahu mau ngapain. Terus ada yang ngajak main bola, aku pengen sih... tapi males nyuci baju. Jadi aku dan teman-temanku yang tidak mau kotor main kartu bareng. Dan begitulah hariku berakhir.








Ini Main Bola Atau Kerusuhan? Eksplorasi 12 November 2019

Yak aku sudah berpisah dari teman-teman dan mentor-mentorku (tinggal sisa 1 teman seregu) di sinilah eksplorasi yang sebenarnya dimulai. 

Rumah yang aku singgahi untuk eksplorasi dihuni oleh sepasang suiami istri, Pak Wowo dan ibu Sofiah. Pak Wowo berumur 49 tahun, orangnya agak pendek, ramah, suka bercerita, dan sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan. Bu Sofiah, seumuran Pak Wowo, suka bercerita juga, dan sangat jago memasak. Mereka mempunyai anak, tapi sudah dewasa semua jadi tidak tinggal di rumah ini. Mereka juga lumayan bahagia didatangi kami, jadi gak sepi.

Kami bangun pagi-pagi sholat Shubuh ke masjid. Lalu sesampainya dirumah ternyata hari ini kami mau diajak menyembelih ayam! Aku dan teman sereguku, Danish ikut membantu megangin ayam. Lalu setelah disembelih ayamnya bersiap untuk dipotong dan dimasak. Pertama direbus dulu untuk melepas bulunya, Ketika kami sedang menunggu agar bulu ayamnya lepas. Pak Wowo tiba-tiba ngajak nangkep ikan. Waduh pembagiannya gimana nih? Masa bu Sofiah ditinggal sendiri? Alhasil, aku pergi menangkap ikan bersama pak Wowo dan Danish tetap dirumah mengolah ayam.

Menangkap ikan, aku kira bakal diajak pergi mancing, ternyata menjala ikan di kolam doang wkwkwk. Dari kolam itu sebelum pulang kami jalan dulu sekitar 2-3 km menuju kolam milik pak Wowo untuk menyimpan ikan yang baru ditangkap  Dari situ aku kembali ke rumah istirahat sebentar, Danish juga sudah selesai mengolah ayam. Pak Wowo ngajak pergi lagi, kali ini pergi ke kebun! Pak Wowo memiliki beberapa kebun, ada kebun pepaya, kelapa, salak, kayu (bagi yang bingung kebun kayu itu untuk pohon yang nantinya akan digunakan kayunya) dan juga ada sawah yang ditanami hal-hal yang berbeda. Kami ke kebun salak, memetik lalu makan beberapa salak. Terus aku kepleset (note disini, pohon salak berduri) langsung tertusuk duri, banyak pula, tapi itu tidak menghilangkan semangatku. Kami melanjutkan perjalanan menuju kebun kelapa. Sampai di sana kami minum kelapa yang baru diambil dari pohon, hmmm segaaaar apalagi dengan tambahan gula aren.

Setelah itu aku dan Danish kuker, kurang kerjaan! Aku kurang ingat setelah itu kami memutuskan untuk tidur siang atau nulis logbook. Kebosanan kita berakhir ketika teman kami Nico ngajak main bola, katanya anak-anak kampung ngajak main, wuih bakal seru nih.

Foto: Rakean Shidqii
Dari permulaan sudah agak rumit, lapangannya kecil dan semua pengen main. Temanku menjadi wasitnya, mainnya tuh rusuuh banget hingga akhirnya, karena kesal. "Udah lah peraturannya gaada yang penting jangan nangis" langsung maju rusuh semua, udah gak penting berapa lawan berapa. Yang penting bola masuk gawang. Lalu Abah Apep datang, Abah Apep ini orangnya agak gimana ya... bisa dibilang dituakan lah. Kami diminta berhenti main bolanya sebentar untuk bikin tim, tim yang baik dan benar. Nah setelah pembagian beberapa saat, permainan mulai. Karena orangnya banyak permainannya dibagi 3 dengan pemain yang beda semua. Tapi ada 1 sesi yang khusus cewek sisanya bebas (tapi mana ada cewek mau ikut orang bar-bar kayak kita main). Permainan berjalan lanjut beberapa saat, wah habislah kita anak Oase gak ada yang bisa main bola. Oase kalah telak, seingatku 4-2 dan 3-0 tentunya kita yang poinnya lebih sedikit. Udah yang cowoknya hancur begini ceweknya malah menang dong dengan skor 1-3 seingatku. Setelah permainan bola yang sangat seru itu kami bosen lagi. Malamnya sebelum tidur kami ngumpul-ngumpul dulu sambil telpon orangtua.




Akhirnya Dimulai Eksplorasi 10 - 11 November 2019

Foto: Rakean Shidqii
Akhirnya... setelah persiapan beerbulan-bulan dilaksanakan juga eksplorasi. Jam 7 malam, sebagian besar anak Oase sudah di stasiun, ngobrol-ngobrol, ngecek barang, ya mempersiapkan diri untuk berangkat lah.
Jam 9 keretanya datang, perjalanan ke Tasikmalaya 7 jam dan dari yang aku lihat tidak ada yang berencana untuk tidur. Benar saja, nyaris tidak ada yang tidur, gak tahu lagi becanda ngobrol atau memulai perang dunia ketiga, telingaku sampai lelah mendengarkannya.

Kami sampai sekitar waktu Shubuh di Tasikmalaya ugh, badan berasa kayak mau remuk. Kami sholat Shubuh lalu taruh barang. Surprise surprise ternyata kita naik mobil bak ke desa! Rasa capek langsung HILANG ketika melihat mobil bak. Kami memasukkan barang lalu naik. Udaranya segar dan anginnya kencang,hmm menyenangkan sekali. Tiba-tiba mobilnya menepi di depan sebuah alun-alun, lebih tepatnya alun-alun Manonjaya. Kami berhenti di sana sebentar untuk beli makan. Makanannya dibelikan oleh para mentor selama para mentor beli makanan kita tawuran main benteng.

Setelah perjalanan yang mencekam naik mobil bak (naik turun gunung, kena pohon) kami sampai juga di desa. Entah berapa kali aku kena dahan pohon di perjalanan tadi. Kami disambut oleh pak Kades (kepala desa) Pak Cece Armudin. Lalu kita jalan-jalan, orientasi lingkungan bentar biar gak nyasar ke dalem jurang.
Terus kami menaruh ikan, ya ikan yang nanti pada hari Kamis akan kami tangkap dan makan lagi. Yahelah buat apa dimasukin ke kolam, langsung masak aja.

Foto: Wahyu Andito
Setelah kotor menaruh ikan kami diajak mandi di sungai. Aku kira sungainya sungai biasa, tapi aku salah. Ternyata ada bendungan agak kecil tapi lumayan tinggi. Nah kita bisa lompat dari situ menuju sungainya. Hmm kayaknya seru tapi bahaya hmmm... selagi aku berpikir tiba-tiba byuuuur! Temanku sudah ada yang loncat duluan, dan melihatnya masih hidup, byuuuurr!!! Kami lanjut berenang, ada yang lompat-lompat lagi (termasuk aku). 3 jam kami bermain disana. Lalu, yah gak mungkin kita main terus kan kan, sore menjelang malam kami berjalan kembali ke desa, pertemuan dan makan malam bersama. Lalu kami berpisah, menuju rumah tempat menginap masing-masing




Monday, November 4, 2019

Oleh-Oleh Dari Arab 18 - 21 Oktober 2019

Sampai di Purwokerto... Turun dari kereta kami check in di hotel lalu kelurgaku sarapan di hotel, aku tidak ikut karena, aku ada rencana lain.

Beberapa saat kemudian mobil sudah berjalan menuju Soto Haji Loso. Tempat makan soto kesukaanku di Purwokerto, seperti biasa aku pesan 3 mangkok lalu makan dengan lahap. Aah kenyang, kami menuju ke rumah nenekku untuk mengantarkan air Zam-zam. Setelah ibuku mengobrol lamaaaa dengan nenek kami pergi ke toko es krim Brasil (iya namanya emang gitu) bersama sepupuku untuk ya makan eskrim.

Aku kurang ingat apa yang terjadi setelahnya, soalnya biasa-biasa aja, ibuku ngobrol sama mbah lagi, balik ke hotel, tidur. Pokoknya besoknya aku ke Banjarnegara, tempat  nenekku yang satunya, dan tempat yang ada banyak sepupu~.

Setelah perjalanan yang lumayan panjang dari Purwokerto aku sampai juga ke Banjar, waktunya main sama sepupu-sepupu! Setelah seharian bersenang-senang bersama sepupu, main bola, badminton, jalan-jalan, petak umpet tidak terasa sudah waktunya makan malam. Untuk makan malam, (mumpung lagi liburan) ibuku membelikan sushi, banyak banget sushi untuk makan malam, Hmm enak.

Esoknya, setelah malam kekenyangan makan sushi, ternyata sudah waktunya untuk pulang, tapiiii sebelum itu KITA MAKAN SOTO DULU, kami makan soto di Taaman Kota, (yang memang pusat street food) uenak tenan. Lengkap sudah liburanku ke Purwokerto dan Banjarnegara, waaktunya pulaaaaang...


Sunrise Di Bromo Malang 14 - 15 - 16 - 17 Februari 2019

Kali ini aku akan jalan-jalan (kulineran) ke Malang! Kalau kesini makanan yang paling recommended ya, bakso Malang.

Kami sampai hari Kamis, ceck in ke hotel, mandi dsb. Lalu lanjoet jalan-jalan, kami pergi ke sebuah rumah makan yang namanya Bakso President, baksonya ueeenak tenan, memang ya, kalau makan makananan langsung dari asalnya rasanya beda. Oh iya, Bakso President tempatnya agak unik, kesana perlu menyeberang rel kereta dulu. Ibuku takut, yahelah itu liat keujung itu gak ada apa-apa. Setelah itu kami mengunjungi museum Brawijaya, aku kurang ingat museum nya tentang apa sayangnya 😜.

Esoknya kami pergi ke suatu tempat bernama Jatim Park, semacam taman bermain, tapi gede sampai dipisah-pisah gitu, Jatim Park 1, 2, dan 3 seingatku kami makan siang di Jatim Park 1. Tema restorannya bagus dikelilingi tanaman gitu, terus ada singa. Tapi kayaknya agak kurang terawat gitu, tempatnya berdebu singanya juga kurus malah jadi menyedihkan gitu. Kami juga mengunjungi Jatim Park 3, tempatnya ya, kayak taman bermain biasa seru sih seru tapi ngapain, jauh-jauh ke Malang? Ini mah di Jakarta banyak.

Setelah dari Jatim Park kami langsung kembali ke hotel (tempatnya jauh) lalu esoknya, adalah hari paling menyenangkan selama aku di Malang, aku pergi jalan-jalan ke Bromo! Lebih spesifiknya Bromo dan sekitarnya, kami dijemput pagi buta di hotel, sekitar jam 1 pagi lalu naik mobil menuju Bromo. Aku tidur selama perjalanan, sekitar jam 5  pagi aku dibangunkan, aku seneng banget "wah akhirnya sampai juga disini" sayangnya ternyata kami pindah ke jip karena mobil biasa gak kuat, kecewa aku. Alhasil, aku tidur lagi selama perjalanan menuju Bromo, sampai disana aku dibangunkan, kami jalan naik sebentar lalu menuju ke tempat melihat sunrise, sunrise nya indaaaah sekali, aku merasa semua perjalanan tadi worth it. Pulangnya kami mengunjungi Soto Jalalan Lombok Bude Peni, sotonya enak banget, pokoknya recommended deh.

Esoknya aku mengunjungi Pantai 3 Warna, sebagai opening aku mau mengatakan bahwa pantainya bagus banget, aku sudah membuat video yang lumayan detail tentang Pantai 3 Warna yang bisa dilihat disini, terimakasih sudah membaca.



Monday, October 14, 2019

Raudhah Tempat Doa Diijabah Madinah 6 - 7 Oktober 2019

Setelah perjalanan panjaaaaaang dari Mekkah akhirnya aku sampai di Madinah/ Selesai check in di hotel kami satu tur grup langsung menuju Masjid Nabawi.

Selesai jamaq Maghrib - Isya di Nabawi kami diberi pilihan, untuk istirahat di hotel atau menuju ke Raudhah. Oh iya penjeleasan sedikit, Raudhah adalah tempat diantara mimbar dan rumah (sekarang makam) Rasulullah SAW, kalau shalat 2 Rakaat disana pahalanya berlipat ganda, dan kalau berdoa disana kemungkinan doa diijabah (terkabul) sangat besar.

Satu grup langsung kompak semua ingin ke Raudhah dulu, kami sholat 2 rakaat disana lalu berdoa, terus pergi tidur.

Paginya, kami tur keliling Masjid Nabawi, sekaligus pergi ke pemakaman Baqi, tempat dimana banyak sahabat dikuburkan, dan juga beberapa anggota keluarga Rasulullah SAW. Tempatnya ya.... Kayak makam, di pasir gitu, tidak ada yang terlalu unik. Kami juga mengunjungi makam Rasulullah SAW, lalu Abu Bakar dan Umar r.a. Aku terharu, aku bisa berdidri didepan makam orang-orang paling hebat dalam sejarah Islam.

Hari itu aku Shalat 5 waktu disana, Shalat disana tuh, gimana ya, seperti  masjid biasa tapi, gedeeeee banget. Agak bikin merinding gitu dan juga ya, pahalanya seribu kali lebih banyak daripada shalat di masjid lain (kecuali Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha ya).